Kudung Aku Mana Mi?
Hari ini, 26 Des 2009, dua hari menjelang usianya yang kedua, Nayla terbangun saat kunyalakan lampu kamar. Aku terkejut mendengar kalimat yang diucapkan saat ia membuka matanya. “Kudung aku mana Mi?”. Aku tanyakan lagi padanya, “Kenapa Dek?”, dan ia mengulang pertanyaan yang sama, “Kudung aku mana Mi?”……. Masya Allah…mimpi apa Nayla semalam, sampe bangun tidur yang ditanya pertama kali adalah kerudungnya? Lalu aku katakana padanya, “Kudung adek ada, emang adek mau apa?” Dia menjawab singkat, “Colat mejid”, maksudnya sholat di Mesjid. Heboh rumahku pagi tadi karena banyaknya pujian dan ciuman buat Nayla dari aku dan kakak-kakaknya.
Mungkin beberapa hari ini, kakak-kakaknya sering mengajaknya ke Mesjid, maka memori itu tersimpan dalam benaknya sampai terbawa mimpi. Makanya kalo waktu maghrib tiba dan dia lihat kakak-kakaknya siap ke Mesjid, ia akan buru-buru ke kamar ambil kerudung.
Menurut penelitian, tiga tahun pertama kehidupan seorang anak akan menentukan bagaimana bagaimana ia di kehidupan dewasanya kelak. Tim Utton menyatakan, “At 3, you are made for life….” (Pada usia 3 tahun, kamu dibentuk untuk seumur hidup).
Memang perlu penyelidikan lebih lanjut, karena banyak faktor yang akan ikut berpengaruh pada diri seseorang sampai ia bisa menjadi “seseorang”. Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan di usia dini menjadi faktor yang sangat besar pengaruhnya. Siapa yang paling bertanggungjawab untuk melakukannya? Tentulah orang tua dan keluarga merupakan tempat pertama dan utama untuk membentuk pribadi anak seutuhnya. Salah asuhan di waktu kecil, apalagi di tahun-tahun awal kehidupannya, akan berakibat fatal bagi perkembangan kepribadiannnya kelak.
Makanya aku bilang pada 3 anakku yang pertama, bahwa kehadiran Nayla yang berjarak cukup jauh (terpaut 8 tahun dengan anak ketigaku) adalah SEBUAH PROYEK BESAR. Artinya, kami semua, -tanpa terkecuali- harus menjadi contoh yang baik buat Nayla supaya ia mendapat lingkungan yang kondusif untuk perkembangan pribadinya. Semua harus berjuang supaya menjadi lebih baik.
Sehubungan dengan memori yang akan disimpan oleh seorang anak, sebuah penelusuran sejarah telah dilakukan oleh Alice Miller tentang masa kecil Hitler, Sang Pembantai. Hitler Kecil, pada saat kanak-kanak sering disiksa oleh ayah kandungnya yang keturunan Yahudi. Memori it uterus tersimpan dalam benaknya sehingga terbentuklah Hitler Dewasa yang super super kejam sebagai bentuk pelampiasan dendam pada ayahnya. Na’udzubillahi min dzalik….
Anak-anak memang selalu menjadi interesting subject matter (seperti kata dosenku, Bu Melly) yang tidak akan pernah bosan untuk jadi bahan pembicaraan. Aku bersyukur, Allah telah mengamanahkan kepadaku anak-anak yang sholehah, sehat, cantik dan cerdas (he..he.. siapa lagi yang mau ngebanggain mereka kalo bukan aku, ibunya….prikitiiwww).
Paling tidak itu akan menjadi sebuah doa yang akan didengar oleh Yang Maha Mendengar. Amiiin…
Walaupun mereka masih harus sering diingatkan untuk mandi, belajar atau sholat, dan suka bikin kita nangis kalo lagi susah diatur (seperti yang suka aku alami), tetapi kita tetap harus yakin bahwa mereka kelak akan jadi kebanggaan kita. Yakin…yakin dan yakin…dengan bimbingan dan do’a kita pada Yang Maha Memiliki, kelak mereka akan jadi yang terbaik. Dan JANGAN PERNAH BILANG BEGINI PADA MEREKA, “KAMU KOQ SUSAH BANGET DIBILANGIN SIH, MAU JADI APA NANTI KALAU SUDAH BESAR????”
Sesungguhnya ucapan kita adalah do’a. Maka berprasangka baiklah pada Allah, karena Allah Yang Maha Membolak-balikkan Hati. Allah jualah yang memiliki anak-anak kita. Maka bermohonlah pada Sang Pemilik. Sesungguhnya Dialah yang akan menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin atau sebaliknya.
Ana inda dzonni ‘abdi
Aku (Allah) tergantung persangkaan hambaKU padaKU
Jika mereka kelak menjadi seperti apa yang kita harapkan, janganlah berbangga diri bahwa itu semua karena usaha dan kerja keras kita semata. Selalu jaga dalam hati bahwa keberhasilan yang kita raih, apapun bentuknya, adalah karena rahmat dan kasih sayang Allah. Sama halnya jika seseorang masuk surga, itu bukan karena amal ibadahnya semata tetapi LEBIH karena rahmat dan kasih sayangnya Allah. Dengan begitu mudah-mudahan kita jadi lebih meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya tempat bergantung.
Ya ALLAH, lindungi anak-anak kami dari melakukan perbuatan buruk dan sia-sia dan jadikan mereka sebagai hambaMU yang taqwa…..Amiin
Isi Pesan
Visitors :852 Org
Hits : 7810 hits
Month : 102 Users