Anakmu Bukan Milikmu
Sabtu, 20 Juni 2009 23:33:14 - oleh : audanafira
Sudah
beberapa kali aku membaca puisi itu, tapi entah mengapa kali ini puisi itu
terasa begitu menyentuh. Mungkin karena
aku memang sedang ’klik’ aja atau karena momentnya yang pas. Puisi itu sangat popular. Karangan seorang penyair dan filsuf asal Lebanon, Kahlil
Gibran. Bunyinya antara lain seperti ini:
Anakmu bukan milikmu
Mereka putra putri Kehidupan
Yang rindu pada dirinya
Lewat kau mereka lahir, namun bukan dari engkau
Meski mereka bersamamu, mereka bukan hakmu
Berikan kasih sayangmu, namun jangan paksakan kehendakmu
Sebab mereka punya alam pikiran sendiri
Berikan tempat bagi raganya, tetapi tidak untuk jiwanya
Sebab jiwa mereka penghuni masa depan
Yang tiada dapat kau kunjungi,
Juga tidak dalam mimpi….
Kau boleh berusaha menyerupai mereka
Namun tidak membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak berjalan mundur
Juga tidak tenggelam di masa silam….
Subhaanallah……puisi
yang indah dan penuh makna. Tanpa terasa
air mataku mengalir, padahal sekali lagi puisi itu telah sering kubaca. “Ya Allah..aku berlindung kepadaMu dari
melakukan keburukan dan kedzoliman kepada anak-anakku…..”
Kadang
kita tidak menyadari, sesuatu yang membuat hati kita kesal adalah jika
anak-anak kita melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan atau tidak kita sukai
dan sebaliknya kita akan merasa gembira dan bangga jika mereka menuruti semua
mau kita, semua kehendak kita. Padahal
tidak selamanya orang tua benar dalam segala hal, dan tidak selamanya anak
tidak tau apa yang baik untuk diri mereka sendiri. Arogansi dan egoisme orang tua seringkali
mengalahkan hak anak sebagai seorang pribadi yang dapat bertanggung jawab pada
dirinya sendiri.
Contoh
aja, sejujurnya, aku sering merasa kurang nyaman melihat anak-anakku belajar di
depan tivi. Aku tau masing-masing anak
punya gaya
belajar yang berbeda, yang membuat mereka nyaman dan ‘enjoy’. Tapi aku pikir, mbok ya jangan di depan tivi gitu…. (takut ketuker ya nama pahlawan
sama nama bintang sinetron???
He..he..). Tapi mungkin aku juga
tidak harus bersikap terlalu kaku dalam menyikapi hal ini. Gak usah yang sampe keluar tanduk atau mata melotot
seperti mau copot atau bimoli (bibir monyong lima senti) gitu kali ya…?!
Orang
tua memang harus tetap punya aturan yang jelas dalam keluarga, supaya semua
berjalan dengan kaidah yang semestinya.
Tapi sekali lagi tidak semua pendapat orang tua pasti benarnya dan anak jadi
tidak punya hak menentukan jalannya.
Intinya, kesepakatan menjadi hal penting yang harus ditempuh, agar semua
menjadi indah dan harmonis. Kalau diberi
kepercayaan, sebenarnya anak-anak juga bisa koq tanggung jawab pada dirinya dan
tugas-tugasnya. Tinggal kita sebagi
orang tua mengarahkan dan membimbing mereka dengan full kasih sayang, bukan
dengan paksaan atau tekanan. Buat mereka
comfort dan kita akan lihat betapa
dahsyatnya hasil kerja keras mereka.
Alhamdulillah,
paling tidak hari ini aku dapat 2 kabar gembira, Si kakak peringkat kedua di
kelasnya dan si Ade lulus SD dengan nilai rata-rata UASBN 8.50. Makanya aku
bilang pada mereka, “Wah, kalo belajarnya gak sambil nonton tivi, mungkin Kakak
bisa peringkat satu dan Ade bisa dapet rata-rata 9 ya?” Rupanya ada aja cara buat kita orang tua
membela diri yah…. (He..he.. gak mau kalah aja….)
kirim ke teman | versi cetak
Berita "Jurnal" Lainnya
Loading...