headerphoto

HADIAH YANG RETAK

Rabu, 6 Mei 2009 20:03:12 - oleh : audanafira

Nilai dari sebuah hadiah ada pada ketulusannya

 

 

Aku masuk ke sebuah swalayan dekat sekolahku - di sebuah SLTP Negeri di daerah Kampung Melayu - dengan terburu-buru.  Waktu itu musim hujan dan saat itu bulan Desember tepatnya tanggal 18. 

 

Aku tidak punya uang banyak karena memang uang sakuku tidak pernah berlebih.  Tapi kukumpulkan sisa ongkos metrominiku setiap hari agar bisa membelikan hadiah di ulang tahun Mama. 

 

Bulan lalu, aku juga membelikan Papa hadiah ulang tahun di sini.  Sebuah cangkir berwarna coklat muda dengan tatakannya yang bertuliskan “Papa”.  Aku sangat berharap pasangan cangkir itu yang bertuliskan “Mama” masih ada di sini.  Beberapa hari yang lalu memang masih ada, tapi entah hari ini.  Kalau saja waktu itu uangku sudah terkumpul, pasti akan aku beli saat itu juga.  Jadi aku gak perlu deg-degan seperti sekarang.

 

Bergegas aku menuju ke rak barang pecah belah.  Syukur Alhamdulillah, cangkir “Mama” masih berada di tempatnya.  Tanpa ragu lagi, kuambil cangkir itu dan kubawa ke kasir.  “Akhirnya…”, kataku dalam hati, “Penantianku tidak sia-sia.”

 

Hari masih hujan.  Di pintu swalayan banyak orang berdesak-desakan.  Ada yang mau masuk, ada yang mau keluar dan ada juga yang sedang berteduh.  Seseorang tiba-tiba menyenggol kantong belanjaanku dan…. ..cangkir “Mama” jatuh dari tanganku.  Rasanya aku ingin memaki-maki orang itu, tapi aku pikir tak ada gunanya.  Ya Allah….akankah penantianku sia-sia belaka?

 

Hari masih hujan, tapi kuteruskan langkahku menuju terminal Kampung Melayu.  Aku ingin cepat pulang dan mengucapkan Selamat Ulang Tahun pada Mama walau tanpa apa-apa.

 

Cangkir itu memang pecah, tapi aku berusaha sebaik mungkin untuk merekatkannya kembali.  Kucium dan kukatakan pada Mama hadiah ini memang tidak “berharga” apalagi sekarang sudah tidak utuh lagi, tapi cintaku pada Mama yang membuatku tetap ingin mempersembahkannya untuk orang yang aku cintai.

 

Mama menerima hadiah “tak berhargaku itu” dengan binar kebahagiaan di matanya.  Ia pasti tahu, kalau aku sangat dan sangat mencintainya.

Sejak Mama tiada, cangkir “Mama” itu kubawa ke rumahku sendiri bersama dengan cangkir “Papa”.  Aku mau benda-benda itu, yang pernah kujadikan persembahan rasa cintaku, juga mengingatkanku  bahwa berkat cinta Papa Mamaku yang membuatku hidupku lebih berarti.

 

Bersyukurlah mereka yang masih memiliki orang tua apalagi jika masih ada keduanya.  Berdo’alah selalu agar mereka diberi usia yang panjang.  Dengan begitu, tersedia waktu yang lpanjang pula bagi kita untuk berbakti dan membahagiakan mereka walau kita tahu tak ada yang bisa menggantikan setetes keringatpun yang telah mereka cucurkan demi kita, anak-anaknya………………….

 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Jurnal" Lainnya