headerphoto

ROTI ISTIMEWA

Rabu, 6 Mei 2009 20:01:21 - oleh : audanafira

 

Setiap sore dia lewat di depan rumah kami.  Dengan senyumnya yang khas dan cara menawarkan dagangannya yang “penuh dengan rayuan” itulah yang membuatku sulit untuk menolak.  Bukan apa-apa, anakku – waktu itu – ada tiga orang.  Tentu gak mungkin kalau hanya membeli sepotong roti, dan tentu saja jika itu terjadi setiap hari, cukup manjur juga untuk menguras isi kantongku.

 

Yang istimewa darinya adalah bahwa dia satu-satunya tukang roti perempuan yang lewat di kompleks kami.  Dan yang lebih istimewa lagi, dia adalah seorang sarjana komputer, mantan ketua senat di kampusnya dan berstatus sebagai seorang guru.

 

Di sela-sela waktunya menjajakan roti, aku sering mencuri kesempatan untuk ngobrol dengannya di bawah pohon ceri di depan rumahku. 

Pernah dia bercerita kalau ada seorang anak yang bilang seperti ini padanya, “Mbak orang miskin ya?”.  “Emang kenapa Sayang koq nanya begitu?” jawabnya.  “Abis Mbak kan jualan roti, berarti duitnya dikit dong..”.  Sebelum dilanjutkan, Ibu si anak keburu datang dan meminta maaf berkali-kali atas kata-kata anaknya dan dia hanya menjawab dengan senyuman, “Gak apa-apa koq Bu….”. 

 

Begitu tegarnya dia menjalani kehidupan ini.  Harus mengajar di pagi hari dan berjualan roti di sore hari, bahkan sampai malam hari.  Berbekal sepeda tua dan keranjangnya serta kemauan yang keras untuk berjuang demi anak-anaknya.

 

Akhirnya dia menjadi sahabatku.  Dan setelah beberapa bulan berhenti dari tugasnya sebagai guru, buru-buru kulamar dia menjadi guru di taman kanak-kanak yang aku kelola.  Dua tahun dia bersamaku, bekerja dengan penuh semangat dan penuh keceriaan yang selalu dapat menyembunyikan kegetiran hidupnya,,,,sampai akhirnya dia menjadi kepala sekolah di sebuah sekolah alam.

 

Itulah sebuah kisah tentang perjalanan dan perjuangan hidup seorang anak manusia dalam garis takdirNya.  Kuncinya tetap optimis dan positive thingking karena semua itu dapat menjadi energi dahsyat yang dapat menggerakkan roda kehidupan.

Dan dia…... sahabatku itu, telah membuktikannya.

 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Jurnal" Lainnya