Rasa Kehilangan
Tukang sayur langgananku tadi bercerita tentang seorang anak yang baru saja kehilangan ayahnya. Kebetulan anak itu juga muridku di sekolah. Ayahnya meninggal karena kecelakaan pesawat Aviastar di Wamena pada 9 April yang lalu (pas saat pemilu 2009). Anak itu tadi meledek tukang sayur langgananku, yang juga langganan ibunya. Katanya, “Kasian deh Abang, gak bisa ketemu Papa lagi….”. Si Abang kontan terhenyak dan mengatakan dadanya terasa sesak menahan haru…
Begitu polosnya anak-anak sampai saat ia “yang seharusnya” merasa kehilangan malahan justru “mengasihani” orang lain atas rasa kehilangan yang ia miliki. Padahal jika ia tahu, orang lain yang mendengar kalimat polosnya itu merasa sedih dan terharu. Betapa ia yang masih sangat belia, - usianya sekitar 7 tahun-, sudah ditinggal orang yang mencintai dan dicintainya, ditinggal orang yang menjadi tulang punggung keluarganya, ditinggal orang yang sangat berjasa dalam hidupnya, panutannya, idolanya….. Betapa…
“Tiap-tiap yang berjiwa akan
merasakan mati. Dan sesunguhnya pada
hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.
Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka
sungguh ia telah beruntung. Kehidupan
dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”(QS Ali Imran
(3): 185).
Begitulah Allah telah menggariskan dalam aturannya, bahwa hidup di dunia pasti ada akhirnya, ada kesudahannya, karena semua jiwa akan merasakan mati dan kembali ke hadiratNya untuk mempertanggungjawabkan semua amalan semasa hidupnya. Dan beruntunglah orang-orang yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Semoga kita termasuk di antara orang-orang yang beruntung itu.. Aamiin…
Isi Pesan
Visitors :850 Org
Hits : 7773 hits
Month : 100 Users