headerphoto

Pelajaran Berharga

Jum`at, 24 April 2009 10:43:53 - oleh : z

Setiap orang dapat memberi kebahagiaan untuk orang lain dengan caranya masing-masing

Biasanya aku sering nebeng suamiku kalau sedang ada keperluan ke Ciputat. Tapi kali ini tidak, karena ia berangkat agak terburu-buru, dan entah kenapa anak-anak sedang tidak bisa diajak kompromi. Yang minta inilah, yang kehilangan itulah, ini, itu, dan lain sebagainya. Wah, mau ngirit ongkos jadi gak bisa nih. Lumayan kan, ojek 5000 rupiah, angkot 2000 rupiah. Terpaksa hari ini aku harus ber-angkot ria.
“Silakan Mbak”, kata supir angkot itu ketika aku masuk angkotnya.
Tidak seberapa jauh, salah seorang penumpang turun. “Ya sebentar, Pak. Maaf ya, agak ke depan sedikit,” katanya lagi. Bapak itu menyerahkan beberapa lembar ribuan pada Pak Supir dan kali ini dijawab lagi dengan “Terima kasih banyak ya Pak..”
Seorang pelajar naik. Tapi hanya kurang lebih 500 meter dia sudah sampai tujuan. Diserahkanya uang lima ribuan pada Pak Supir yang langsung menyerahkan uang kembaliannya dan berkata, “Dihitung dulu Neng, kurang gak kembaliannya.” Tanpa suara si Neng yang ditanya ngeloyor pergi.
Satu penumpang lagi turun. Setelah bayar dan menerima ucapan terima kasih dari Pak Supir, ia dapat bonus tambahan do’a juga. “Hati-hati ya di jalan,” kata Pak Supir penuh perhatian.
Begitu seterusnya drama berlangsung silih berganti. Dengan maupun tanpa respon balik dari penumpang, Pak Supir terus melontarkan kata demi kata santun dari mulutnya.
Entah apa yang ada dalam benak penumpang lain, terutama yang dari awal menyaksikan drama ini. Tapi yang jelas, aku terkagum-kagum. Pikirku, “Hari gene….masih ada ya orang kayak gini”
Kalau menurutku, Pak Supir ini pantesnya jadi Customer Service sebuah Bank Terkenal atau Manager Hotel Berbintang dan semacam itulah. Pasti perusahaan tempatnya bekerja puas dengan hasil kerjanya karena bisa merebut hati konsumen sebanyak mungkin. Atau dia sudah pernah ikutan ESQ barangkali, sehingga Kecerdasan Emosional Spiritualnya terasah dengan baik! Kalau ada kesempatan, mungkin kehidupannya jauh lebih baik dari sekarang karena menurutku dia punya potensi besar. (Kayak peramal aja..!)
Giliranku turun. Karena tidak ada uang receh, aku serahkan limaribuan. Sambil menyerahkan uang kembalian, dia bilang,”Kurang gak Mbak kembaliannya?” Seumur hidup, baru aku temui Supir bertanya kembaliannya kurang atau tidak. Bener-bener berani tampil beda dia…..
“Alhamdulillah cukup Pak,” kataku sambil melihat uang kembalian 3000 rupiah di tanganku. “Terima kasih banyak Pak, saya senang naik angkot Bapak.”
Tadi pagi, aku agak kesal karena harus naik angkot. Tapi sekarang, aku bersyukur aku bisa naik angkot ini. Ada pelajaran berharga yang aku dapatkan dari Pak Supir.

Setiap orang pasti bisa membahagiakan orang lain, dengan caranya masing-masing.
Bagaimana dengan kita?

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Buku Harian" Lainnya