Pelajaran Berharga
Setiap orang dapat memberi kebahagiaan untuk orang lain dengan caranya masing-masing
Biasanya aku sering
nebeng suamiku kalau sedang ada keperluan ke Ciputat. Tapi kali ini
tidak, karena ia berangkat agak terburu-buru, dan entah kenapa
anak-anak sedang tidak bisa diajak kompromi. Yang minta inilah, yang
kehilangan itulah, ini, itu, dan lain sebagainya. Wah, mau ngirit
ongkos jadi gak bisa nih. Lumayan kan, ojek 5000 rupiah, angkot 2000
rupiah. Terpaksa hari ini aku harus ber-angkot ria.
“Silakan Mbak”, kata supir angkot itu ketika aku masuk angkotnya.
Tidak seberapa jauh, salah seorang penumpang turun. “Ya sebentar, Pak.
Maaf ya, agak ke depan sedikit,” katanya lagi. Bapak itu menyerahkan
beberapa lembar ribuan pada Pak Supir dan kali ini dijawab lagi dengan
“Terima kasih banyak ya Pak..”
Seorang pelajar naik. Tapi hanya kurang lebih 500 meter dia sudah
sampai tujuan. Diserahkanya uang lima ribuan pada Pak Supir yang
langsung menyerahkan uang kembaliannya dan berkata, “Dihitung dulu
Neng, kurang gak kembaliannya.” Tanpa suara si Neng yang ditanya
ngeloyor pergi.
Satu penumpang lagi turun. Setelah bayar dan menerima ucapan terima
kasih dari Pak Supir, ia dapat bonus tambahan do’a juga. “Hati-hati ya
di jalan,” kata Pak Supir penuh perhatian.
Begitu seterusnya drama berlangsung silih berganti. Dengan maupun tanpa
respon balik dari penumpang, Pak Supir terus melontarkan kata demi kata
santun dari mulutnya.
Entah apa yang ada dalam benak penumpang lain, terutama yang dari awal
menyaksikan drama ini. Tapi yang jelas, aku terkagum-kagum. Pikirku,
“Hari gene….masih ada ya orang kayak gini”
Kalau menurutku, Pak Supir ini pantesnya jadi Customer Service sebuah
Bank Terkenal atau Manager Hotel Berbintang dan semacam itulah. Pasti
perusahaan tempatnya bekerja puas dengan hasil kerjanya karena bisa
merebut hati konsumen sebanyak mungkin. Atau dia sudah pernah ikutan
ESQ barangkali, sehingga Kecerdasan Emosional Spiritualnya terasah
dengan baik! Kalau ada kesempatan, mungkin kehidupannya jauh lebih baik
dari sekarang karena menurutku dia punya potensi besar. (Kayak peramal
aja..!)
Giliranku turun. Karena tidak ada uang receh, aku serahkan limaribuan.
Sambil menyerahkan uang kembalian, dia bilang,”Kurang gak Mbak
kembaliannya?” Seumur hidup, baru aku temui Supir bertanya kembaliannya
kurang atau tidak. Bener-bener berani tampil beda dia…..
“Alhamdulillah cukup Pak,” kataku sambil melihat uang kembalian 3000
rupiah di tanganku. “Terima kasih banyak Pak, saya senang naik angkot
Bapak.”
Tadi pagi, aku agak kesal karena harus naik angkot. Tapi sekarang, aku
bersyukur aku bisa naik angkot ini. Ada pelajaran berharga yang aku
dapatkan dari Pak Supir.
Bagaimana dengan kita?
Isi Pesan
Visitors :848 Org
Hits : 7771 hits
Month : 98 Users